Titisan Puji Tujuh Kalam

Jejak asmara-Mu adalah sirr (rahasia) yang hamba cari, rindu ini adalah barzakh (batas) yang hamba takuti.

Ya Illahi, di rimba dunia yang fana ini, hambaMu merangkak.

(1) Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm

Dengan asma Sangkakala yang bertakhta, sumber segala CINTA,

Di hadapan arasy-Mu, hamba dina mendendangkan puja.

(2) Al-ḥamdu lillāhi rabbil-‘ālamīn

Purnama alam semesta tunduk dalam pujastuti sunyi,

Segala puji-pujian bagi Rabb yang tak terhingga batasnya.

(3) Ar-raḥmānir-raḥīm

Wahai Raja Diraja, rahmat-Mu samudra tak bertepi menghanyutkan jiwa,

Pelukan kasih-Mu yang hangat meredakan gundah gulana.

(4) Māliki yaumid-dīn

Maharaja Dina kekuasaan-Mu tak tertandingi,

Keadilan-Mu panji di Hari Kiamat yang nyata.

(5) Iyyāka na‘budu wa iyyāka nasta‘īn

Kaulah Mahaguru, pada-Mu jiwaku bersujud sunyi,

Dengan segala kekurangan, pertolongan-Mu kami minta.

(6) Ihdinaṣ-ṣirāṭal-mustaqīm

Tunjukilah kami Jalan Sutra yang lurus, titian sejati,

Mohon petunjuk lurus, agar suluh tak pernah sirna.

(7) Ṣirāṭal-lażīna an‘amta ‘alaihim gairil-magḍūbi ‘alaihim wa laḍ-ḍāllīn

Jalan para Wali yang Engkau beri anugerah abadi,

Bukan langkah tersesat yang gelap gulita dan merana.


Tujuh madah ini adalah isyarat kerinduan.

Semoga Nafas ini bertemu Wajah-Mu, ya Haqq.


Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top